Rahasia Sukses Berbisnis ala orang Tionghoa

Apa sih Rahasia Sukses Berbisnis ala orang Tionghoa ?

Berbicara mengenai Imlek pasti tidak terlepas dari budaya khas Tionghoa dan sebagai salah satu keragaman budaya di Indonesia dan salah satu hal yang sampai sekarang masih mengundang rasa ingin tahu orang banyak adalah rahasia sukses orang Tionghoa. Mereka dikenal dengan ketekunan dan juga keuletannya dalam menjalani bisnis. Lalu apa sih rahasia orang Tionghoa agar bisa sukses ?

Nah sebelumnya saya perlihatkan dulu daftar orang-orang terkaya di Indonesia berdasarkan data tahun lalu Desember 2017 versi majalah Forbes:

  1. Budi dan Michael Hartono
  2. Eka Tjipta Widjaja
  3. Susilo Wonowidjojo
  4. Anthony Salim
  5. Sri Prakash Lohia
  6. Boenjamin Setiawan dan Keluarga
  7. Chairul Tanjung
  8. Tahir
  9. Mochtar Riady
  10. Jogi Hendra Atmadja

Dari 10 orang terkaya di Indonesia 8 diantaranya beretnis Tionghoa. Apakah ini memang kebetulan? atau memang ada rahasianya?. Ketika kita membaca daftar-daftar orang seperti diatas ada 3 sikap kita yaitu Iri, Dengki, dan Terinspirasi. Pilih mana? Pastinya terinspirasi ya hhe. Kalau kita sudah terinspirasi maka akan membuka mata dan hati kita untuk mau belajar.

Rahasia Sukses Berbisnis ala orang Tionghoa

Sebelumnya ada penelitian satu dosen dari Beijing di Indonesia. Meneliti bahwa 70% orang Tionghoa yang masih baru ternyata di Indonesia mayoritas adalah kaum orang kaya. Sebenarnya bukan suku Tionghoa yang sukses melainkan suku Perantauan. Suku Perantauan memiliki sifat-sifat yang hampir mirip. Contohnya orang madura di madura tentu saja ada yang sukses tapi mungkin 1%, 2%, 4%, dari total. Tetapi suku madura yang merantau di pontianak bisa 30%, 40% orang sukses.

Jadi tipikali (ciri-ciri) orang perantauan itu mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan orang yang tidak merantau, Apakah tidak merantau tidak sukses? Tidak! Ada juga yang sukses. Sebenarnya bukan SukuTionghoa tapi terlebih lagi sebenarnya perantau memiliki semangat juang yang lebih tinggi dan lebih besar.

Tapi kalau anda, agan-agan, dan teman-teman sekalian tidak merantau tetapi punya sifat-sifat seperti ini sukses juga menanti anda. Jadi sifat-sifat orang perantauan itu:

  • Hemat, karena tidak ada cadangan kalau duitnya abis minta siapa? Mamanya? Mamanya dimana? Nun jaaauh disana hhe, minta kiriman-pun lama bahkan tidak bisa.
  • Tangguh, tidak ada pilihan bagi mereka. Begitu tangguhnya mereka bekerja sungguh-sungguh pagi, siang, atau malam mereka bekerja dengan sungguh-sungguh.
  • Peka terhadap peluang bisnis yang menguntungkan, manusia itu seringkali berpikir karena kepepet. Ketika mereka nyaman maka cenderung santai dan enjoy-enjoy aja. Ketika mereka kepepet maka cenderung mencari peluang bisnis mana yang menguntungkan. Wah yang menguntungkan mana ya? Dimana ya? Yang ini yang itu? hhe.

Dari cerita di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sukses tidak mengenal iri, dengki, apalagi emosi tapi sukses mengenal strategi dan komitmen untuk menjalankannya.

Menjadi orang tionghoa bukan berarti langsung terlahir kaya, butuh proses untuk mencapai sukses. Lalu apa sih yang membedakan cara kerja orang tionghoa dengan yang lain? Dan bagaimana cara mengubah mindset kita agar siap bersaing dengan orang dari luar?
Mindset orang sukses berbeda dengan orang yang tidak sukses. Misalnya begini pilih main Level atas atau Level bawah (victory/victimize). Ketika anda memilih Level bawah/victimize (bermain menjadi korban) maka anda akan menjadi orang yang BEJ ( Blem, Excuses, Justify ), kalau anda memiliki sifat BEJ maka anda akan menempatkan diri anda sendiri menjadi korban. Lalu apa itu BEJ:

  1. Blem, anda menyalahkan orang lain. Setiap ada kejadian yang tidak dia inginkan maka dia akan mulai menyalahkan orang lain.
  2. Excuses, (beralasan). Misal hujan kok, macet kok, banjir kok, makanya saya terlambat. Mau banjir lah, atau apalah mestinya harus dijalani dengan sepenuh hati.
  3. Justify, yaitu membenarkan orang lain lebih sukses tanpa kita mau belajar atau terinspirasi terhadap kesuksesannya. Misal: ada orang ditanya ini lho anaknya orang sukses, lalu dijawab “ooh tenang aja itu anaknya orang kaya sekolah di luar negeri, bahasa inggris lancar, pulang dibawain bmw, kenalan anak menteri tentu saja sukses” Emangnya cuma orang kaya saja yang sukses, terus ada nggak anak orang miskin yang sukses? Ya ada lah banyak. Ditanya lagi, itu belajar dari anaknya orang miskin juga terbukti sukses. Dijawab “oh anaknya orang miskin kok sukses ya tidak heran karena dia miskin makanya daya juangnya kuat. Terus ditanya lagi, Lha kamu? “Lha aku anaknya orang menengah sih makanya daya juangnya pas-pas an. Waduh pusing juga kalau anaknya kayak gini ya hehe.

Daripada itu lebih baik anda menjadi orang yang victory (pemenang) atau mindsetnya orang sukses yaitu:

“Daripada anda Blem (menyalahkan orang lain) lebih baik anda ambil tanggung jawab“, kalau misal yang
salah banjir kok, macet kok, maka anda tidak perlu meningkatkan diri lebih baik mengambil tanggung jawab dan mulai dari diri sendiri.
“Daripada alasan (excuses) lebih baik ambil tindakan“.
“Daripada justify (membenarkan orang lain) lebih baik kita belajar untuk meningkatkan diri“.

Ada pepatah mengatakan “tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses dan belajar”. Kalau kita belum sukses berarti kita harus belajar, kalau kita belajar besok kita jadi lebih sukses, kalau kita sudah sukses pun kita tetap harus belajar, kalau tetap belajar besok kita lebih sukses lagi. Oke !!! Mantap.

Lalu bagaimana kalau punya usaha tapi punya kompetisi dengan orang yang gigih dan jaringan lebih kuat, bagaimana cara mengatasinya?
“Kalau anda bisa bersaing caranya adalah membuat nilai tambah atau nilai yang lebih dari mereka dan punya faktor kali distribusi dan anda rela berbagi”. Tapi kalau anda tidak bisa bersaing berkolaborasi saja. Jadi sampean tidak perlu bersaing kok, sifat manusia untuk berkompetisi sebetulnya bisa menjadi kolaborasi untuk menjadi lebih baik. Kalau anda tetep mau sendiri dan tidak mau kolaborasi, “Pelajari kelemahan-kelemahannya, pelajari kelebihan-kelebihannya, anda amati tiru modifikasi lebih baik (ATM)” dan kemungkinan sukses anda lebih tinggi, daripada anda seperti tadi adanya cuma BEJ komplain melulu hehe.

Rahasia Sukses Berbisnis ala orang Tionghoa

Orang sukses itu bisa mengubah 0 menjadi 1, dan 1 menjadi banyak. Lalu mana yang lebih sulit 0 menjadi 1, atau satu menjadi banyak? “Kalau yang susah itu memang 0 menjadi 1 karena memulai dari awal, kalau 1 menjadi banyak itu lebih mudah karena kita tinggal mengikuti orang yang sudah sukses”. Tapi kalau anda jadi pengikut gunakanlah ATM (amati, tiru, modifikasi lebih baik) atau pakai PIS (perhatikan, ikuti, sempurnakan lebih baik) maka kemungkinan sukses anda lebih besar.
Nah disamping itu ada juga 7 Resep Sukses anti Gagal, ada juga ya anti gagal? Ya ada lah hhe. Siapa pengin tahu? Yuk kita simak 7 Resep Sukses anti Gagal berikut ini.

1. Punya keyakinan

keyakinan itu tadi “tidak ada kata gagal yang ada hanya sukses dan belajar”.

2. Punya Goal (tujuan)

Keyakinan belum cukup maka diperlukan Goal yaitu SPTM, apa itu SPTM ? SPTM yaitu Spesifik, Positif, Tertulis, dan harus Menarik. Tanpa ada goal yang jelas (spesifik) maka tindakan kita tidak ada arahnya alias ngawur.

3. Alasan yang sangat kuat

Alasan yang sangat kuat disebut juga dengan motivasi, motivasi bisa datang dari luar bisa dari dalam. Biasanya alasan kuat cuma 2 yaitu nikmat dan sengsara, dan sengsara itu poinnya 80% daripada nikmat, sudah hukum alam jika ingin nikmat maka sengsara dulu jadi tidak usah khawatir dengan yang namanya sengsara ini oke? Mantap.

4. Bergaul, Belajar, Bekerja Sama bahkan mempekerjakan orang sukses

Anda bergaul dulu dari situ anda bisa belajar, selain belajar anda bisa bekerja sama. Lebih mudah mana sukses bekerja sendiri atau bekerja sama dengan orang yang sudah sukses? Pastinya bekerja sama lah hehe. Yang lebih keren lagi mempekerjakan orang sudah sukses, pengin tau caranya? Caranya yaitu anda harus rela berbagi, contohnya anda membangun rumah, anda mau bangun rumah sendiri? Tidak bisa. Maka anda harus rela mempekerjakan orang yang jago bangun rumah, caranya adalah dengan rela berbagi, anda rela membayar, rela ngasih saham, rela ngasih peran, ngasih waktu, terserah apa saja.

5. Mana yang paling penting

Pilih satu saja tindakan menuju arah impian anda sampai jadi hebit (jadi kebiasaan)

6. Peka, Monitor, dan Lapor

Misal anda ingin langsing maka anda peka makanan apa yang membuat anda gemuk dan langsing, kemudian anda lapor (ditulis) tanpa lapor biasanya orang tidak mau monitor, jadi kalau anda mau sukses maka anda lapor misal janji sama orang lain atau pergi ke pak notaris bilang “boleh nggak pak saya taruhan sama bapak?” Maksudnya? (Notarisnya kaget) lalu bilang lagi “ini pak saya kasih 50 jt, kalau saya tidak lapor setiap bulan turun 2 kilo 50 jt untuk bapak? Cocok? Oh ya langsung cocok hehe. Kalau seperti itu pasti langsing karena takut 50 jt nya ilang hehe.

7. Presistant dan Fleksibel

Presistant terhadap tujuannya (goal) dan fleksibel terhadap caranya. Banyak orang terbalik tujuannya yang fleksibel dan caranya yang tetap, kalau begini maka tidak sampai-sampai tujuannya. Goalnya tetep caranya boleh bolak-belok.

Orang tionghoa itu cenderung pekerja keras kadang suka lupa dengan keluarga, Lalu cara  merekamengatasinya bagaimana?

Manusia itu punya banyak peran dalam kehidupan, ada peran sebagai orang tua (ditulis dulu), kemudian sebagai saudara, sebagai bisnisman, sebagai anggota masyarakat, sebagai apapun peran anda ditulis. Kemudian dalam 1 minggu, senin-sabtu sampai minggu juga boleh kemudian kapan anda dengan keluarga, kapan dengan ini, dengan demikian tak satupun peran ketinggalan. Kalau misalnya harusnya nemenin anak untuk les ternyata tidak bisa besok saya ganti ke kapan, besok saya pikirkan kemana. Sedangkan untuk bisnis saya harus meeting bisnis ini, tetapi harus meluangkan hal-hal yang yang penting. Dan sampaikan mulai dengan non direktive, non directive itu apa? Bisa ajak nonton film-film atau baca buku ataupun anda ceritakan yang ketika orang bisnisss terus keluarganya berantakan. Jadi dengan anda cerita atau non directive ini siapa tahu bisa menyentil hatinya dan dia insyaf. Intinya bertemu dan juga berkomunikasi dan katakan baik secara directive maupun non directive.

Orang tionghoa ternyata juga mendidik anaknya dengan kecerdasan keuangan. Kecerdasan keuangan dimulai dengan kita tahu 2 hal, satu kita tahu tentang pendapatan, dua kita tahu tentang pengeluaran. Yang namanya pendapatan itu ada 3, yaitu aktiv income, passive income, dan portfolio income.

Aktif income ada 3 yaitu kita sebagai karyawan, sebagai professional seperti dokter, pengacara, dan pengusaha tapi yang usahanya belum autopilot.
Passive income seperti rumah disewakan, properti yang disewakan, tanah yang disewakan bagi hasil dan lain-lain.
Portfolio income merupakan pendapatan hasil dari berinvestasi pada aset-aset kertas (reksadana, saham, kontrak berjangka dan lain-lain)

Pengeluaran secara umum ada yang namanya produktif ada yang namanya konsumtif. Kalau yang namanya produktif itu tentu saja yang untuk investasi tadi. Ada juga yang kesannya konsumtif sebetulnya produktif yaitu seperti pengeluaran untuk belajar, pengeluaran untuk bergaul dengan orang-orang sukses untuk belajar (jangan dunia jeleknya, ambillah dunia positifnya), pengeluaran untuk amal yang kelihatannya konsumtif tapi sebenarnya membawa berkat yang luar biasa untuk kita.

Pengeluaran juga ada 3 jenis lagi (diluar 2 yang diatas) yaitu pengeluaran langsung habis, passive spending, dan invinsible spending.

Pengeluaran langsung habis misal anda beli macam-macam baju, sepatu 15 jt, ketika anda membeli itu maka pengeluaran anda akan langsung habisdipakai.
Passive spending, apa itu? Misalnya anda langganan macem-macem yang tidak anda pakai seperti
karyawan tidak produktif dan anda beli mobil yang seharusnya tidak terlalu penting.
Invinsible spending, tidur pun anda dirampok tanpa anda tahu. Misal anda beli mobil seharga 1,850 milliar setelah dijual harganya 350 jt, ilang 1,5 milliar. Nah 1,5 milliar itu yang namanya invinsible spending.

Jadi pelajarannya adalah begini selama anda belum punya income jangan pinter boros-boros. Banyaknya juga orang miskin tetap miskin karena baru aktiv income sudah kebanyakan gaya yang tidak perlu, menurut hukum fisika (hukum alam ciptaan tuhan) Gaya sebanding lurus dengan Tekanan, kalau hidup anda kebanyakan tekanan berarti kebanyakan gaya. Jadi boleh nggak kita ngaya? Boleh! Ketika passive income anda jauh lebih besar dibanding gaya hidup anda maka anda hidupnya tanpa tekanan. Semoga juga kecerdasan keuangan diajarkan disekolah sehingga anak-anak bangsa Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik. Oke!

Nah jadi bukan hanya kerja keras, tetapi juga kerja cerdas, cerdas menghasilkan uang, dan cerdas mengelola uang. Itulah sejumlah rahasia orang tionghoa yang bisa saya bagikan. Ada 3 pesan saya kali ini:

  1. Tidak menyerah pada nasib tapi selalu bekerja keras untuk kehidupan yang lebih pantas.
  2. Mudah beradaptasi dan tetap gigih walaupun gagal berkali-kali.
  3. Bekerja bukan hanya untuk hari ini saja tetapi selalu memikirkan masa depan bahkan sampai 3 turunan. Oke!

Selesai sudah saya mengupas rahasia orang tionghoa semoga bisa bermanfaat dan menginspirasi kalian yang membacanya, jika ada yang perlu ditanyakan silahkan komentar di bawah terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *