Lyudmilla Pavlichenko sniper wanita dengan senyum mematikan, tembus 309 kill pada perang dunia 2

Lyudmilla Pavlichenko sniper wanita dengan senyum mematikan, tembus 309 kill pada perang dunia 2

Rusia dikenal memiliki sederet sniper wanita yang sangat mematikan ketika beraksi, diantara banyaknya sniper wanita rusia yang memiliki rekor paling tinggi dalam menembak musuh adalah lyudmilla Pavlichenko. Bahkan kisahnya ada dalam film berjudul “Battle for Sevastopol“. Ketika bertempur melawan prajurit Jerman yang melancarkan serangan besar-besaran ke Rusia pada bulan Juni 1941 Lyudmilla bahkan berhasil menembak 309 musuh dan tak ada yang menyangka jika gadis cantik berparas model ini ternyata seorang penembak berdarah dingin dan terbiasa menggunakan senjata api sejak usia 14 tahun.

Lyudmilla Pavlichenko lahir pada tanggal 12 Juli 1916 di Ukraina, dengan latar belakang dari keluarga sederhana. Di usianya yang menginjak 14 tahun keluarga Lyudmilla kemudian memutuskan untuk berpindah ke kota Kiev. Di ibukota Ukraina inilah kehidupan Lyudmilla mulai berubah dan dirinya menemukan hobi baru yakni menembak. Ketertarikan Lyudmilla pada dunia menembak tersebut ia dapat setelah bekerja sebagai tukang gerinda di sebuah perusahaan senjata yang ada di kota Kiev.

Rusia dikenal memiliki sederet sniper wanita yang sangat mematikan ketika beraksi, diantara banyaknya sniper wanita rusia yang memiliki rekor paling tinggi dalam menembak musuh adalah lyudmilla pavlichenko. Bahkan kisahnya ada dalam film berjudul "Battle for Sevastopol". Ketika bertempur melawan prajurit Jerman yang melancarkan serangan besar-besaran ke Rusia pada bulan Juni 1941 Lyudmilla bahkan berhasil menembak 309 musuh dan tak ada yang menyangka jika gadis cantik berparas model ini ternyata seorang penembak berdarah dingin dan terbiasa menggunakan senjata api sejak usia 14 tahun.  Lyudmilla Pavlichenko lahir pada tanggal 12 Juli 1916 di Ukraina, dengan latar belakang dari keluarga sederhana. Di usianya yang menginjak 14 tahun keluarga Lyudmilla kemudian memutuskan untuk berpindah ke kota Kiev. Di ibukota Ukraina inilah kehidupan Lyudmilla mulai berubah dan dirinya menemukan hobi baru yakni menembak. Ketertarikan Lyudmilla pada dunia menembak tersebut ia dapat setelah bekerja sebagai tukang gerinda di sebuah perusahaan senjata yang ada di kota Kiev.  Ibunya adalah seorang guru dan ayahnya seorang pekerja di pabrik. Lyudmilla yang sejak kecil berpenampilan tomboy kemudian memutuskan untuk bergabung dengan grup menembak dan berkembang menjadi penembak Jitu amatir yang membuatnya mendapatkan lencana Furusilov Schapshutter dan sertifikat penembak jitu. Semasa berada di Kiev Lyudmilla bertemu dengan seorang pria bernama Alexey Pavlichenko. Keduanya kemudian memutuskan untuk menikah pada tahun 1932 disaat Lyudmilla masih berusia 16 tahun. Tak lama kemudian mereka dikarunia seorang putra bernama Rustyslav. Sayangnya usia pernikahan Lyudmilla dan Alexey hanya bertahan 5 tahun karena pada tahun 1937 keduanya kemudian memutuskan untuk bercerai.  Selepas bercerai ini Lyudmilla kemudian memutuskan untuk menyelesaikan studinya di Universitas Kiev dan kemudian berhasil menjadi master dalam bidang sejarah. Pada bulan Juni 1941 saat perang dunia pecah dan Jerman mulai menginvasi Uni Soviet Lyudmilla yang kala itu berusia 25 tahun langsung terketuk hatinya untuk bergabung dengan militer guna melindungi negaranya. Dirinya bergabung ke dalam batalion ke 25 Red Army namun karena statusnya sebagai wanita, Lyudmilla sempat mendapat penolakan dan lebih dianjurkan untuk menjadi perawat dalam tim medis. Kemudian ia menunjukkan beberapa sertifikat kejuaraan menembak yang pernah ia menangkan, berkat sertifikat inilah kemudian Lyudmilla berhasil bergabung dengan militer.  Tak lama kemudian bersama 2000 sniper wanita lain, Lyudmilla berhasil lolos seleksi dan bergabung di garis depan medan perang sebagai bagian dari Red Army. Tak lama kemudian pada bulan Agustus 1941 Lyudmilla berhasil mencetak tembakan pertamanya, saat itu Lyudmilla ditugaskan untuk melindungi sebuah bukit strategis di dekat Belyayevka. Dirinya berhasil menembak 2 tentara Jerman dengan senapan Mosin Nagant model 1891 dari jarak 550 meter. Prestasi ini tentu tergolong luar biasa karena Mosin Nagant model 1891 sebenarnya bukan senapan khusus untuk sniper.  Berkat prestasinya di Belyayevka, Lyudmilla kemudian ditugaskan untuk mempertahankan kota Oddesa. Selama dua setengah bulan bertugas di Oddesa, Lyudmilla berhasil menembak 187 pasukan Jerman namun karena kalah jumlah pada tanggal 15 Oktober 1941 Jerman berhasil menguasai Oddesa.  Bersama pasukan lainnya Lyudmilla kemudian ditarik ke Sevastopol yang berada di semenanjung Crimea. Di Sevastopol Lyudmilla bertempur melawan tentara Jerman selama 8 Bulan lebih. Selama periode ini Lyudmilla berhasil menembak 257 tentara Jerman termasuk diantaranya 36 sniper Jerman yang mengincar nyawanya. Dengan jumlah ini Lyudmilla setidaknya telah melumpuhkan 309 orang tentara Jerman selama masa perang dunia kedua. Sayangnya aksi Lyudmilla harus terhenti pada bulan Juni 1942 setelah ia mengalami luka akibat ledakan mortir. Akibat lukanya itu Lyudmilla terpaksa tidak bisa bergabung ke medan perang lagi.  Lyudmilla Pavlichenko kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan ditugaskan untuk melakukan lawatan ke negara-negara Barat. Pada tahun 1942 Lyudmilla dikirim ke Kanada dan Amerika Serikat untuk kunjungan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meyakinkan sekutu melawan Jerman. Ketika mengunjungi Amerika Serikat ia menjadi warga Soviet pertama yang diterima oleh presiden Amerika Serikat waktu itu Franklin Delano Roosevelt, dan menyambutnya di gedung putih.  Lyudmilla kemudian diundang oleh Eleano Roosevelt untuk melakukan Tour Ke Amerika untuk menceritakan pengalamannya sebagai prajurit wanita di garis depan medan perang. Setelah masa perang dunia berakhir Lyudmilla tetap mengabdi pada militer Uni Soviet sebagai mayor angkatan laut hingga tahun 1953 sebelum akhirnya ia aktif pada organisasi veteran.  Pada tahun 1974 Lyudmilla akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 58 tahun akibat Stroke yang ia derita. Di akhir hayatnya Lyudmilla mengaku bahwa ia banyak membunuh tentara Jerman karena terpaksa, ia melakukannya demi melindungi rekan-rekannya yang saat itu masih muda. Perang adalah tempat paling kejam dan tak kenal ampun maka dari itu medan perang diidentikan sebagai tempat yang tidak cocok bagi wanita yang sering dianggap lemah dan memiliki perasaan yang lembut. Namun stigma itu tampaknya tak berlaku bagi sosok Lyudmilla Pavlichenko, seorang wanita cantik yang membuktikan jikalau dirinya sanggup bertahan di medan perang yang kejam dan bahkan berhasil menjadi salah satu predator paling mematikan.

Ibunya adalah seorang guru dan ayahnya seorang pekerja di pabrik. Lyudmilla yang sejak kecil berpenampilan tomboy kemudian memutuskan untuk bergabung dengan grup menembak dan berkembang menjadi penembak Jitu amatir yang membuatnya mendapatkan lencana Furusilov Schapshutter dan sertifikat penembak jitu. Semasa berada di Kiev Lyudmilla bertemu dengan seorang pria bernama Alexey Pavlichenko. Keduanya kemudian memutuskan untuk menikah pada tahun 1932 disaat Lyudmilla masih berusia 16 tahun. Tak lama kemudian mereka dikarunia seorang putra bernama Rustyslav. Sayangnya usia pernikahan Lyudmilla dan Alexey hanya bertahan 5 tahun karena pada tahun 1937 keduanya kemudian memutuskan untuk bercerai.

Selepas bercerai ini Lyudmilla kemudian memutuskan untuk menyelesaikan studinya di Universitas Kiev dan kemudian berhasil menjadi master dalam bidang sejarah. Pada bulan Juni 1941 saat perang dunia pecah dan Jerman mulai menginvasi Uni Soviet Lyudmilla yang kala itu berusia 25 tahun langsung terketuk hatinya untuk bergabung dengan militer guna melindungi negaranya. Dirinya bergabung ke dalam batalion ke 25 Red Army namun karena statusnya sebagai wanita, Lyudmilla sempat mendapat penolakan dan lebih dianjurkan untuk menjadi perawat dalam tim medis. Kemudian ia menunjukkan beberapa sertifikat kejuaraan menembak yang pernah ia menangkan, berkat sertifikat inilah kemudian Lyudmilla berhasil bergabung dengan militer.

Tak lama kemudian bersama 2000 sniper wanita lain, Lyudmilla berhasil lolos seleksi dan bergabung di garis depan medan perang sebagai bagian dari Red Army. Tak lama kemudian pada bulan Agustus 1941 Lyudmilla berhasil mencetak tembakan pertamanya, saat itu Lyudmilla ditugaskan untuk melindungi sebuah bukit strategis di dekat Belyayevka. Dirinya berhasil menembak 2 tentara Jerman dengan senapan Mosin Nagant model 1891 dari jarak 550 meter. Prestasi ini tentu tergolong luar biasa karena Mosin Nagant model 1891 sebenarnya bukan senapan khusus untuk sniper.

Rusia dikenal memiliki sederet sniper wanita yang sangat mematikan ketika beraksi, diantara banyaknya sniper wanita rusia yang memiliki rekor paling tinggi dalam menembak musuh adalah lyudmilla pavlichenko. Bahkan kisahnya ada dalam film berjudul "Battle for Sevastopol". Ketika bertempur melawan prajurit Jerman yang melancarkan serangan besar-besaran ke Rusia pada bulan Juni 1941 Lyudmilla bahkan berhasil menembak 309 musuh dan tak ada yang menyangka jika gadis cantik berparas model ini ternyata seorang penembak berdarah dingin dan terbiasa menggunakan senjata api sejak usia 14 tahun.  Lyudmilla Pavlichenko lahir pada tanggal 12 Juli 1916 di Ukraina, dengan latar belakang dari keluarga sederhana. Di usianya yang menginjak 14 tahun keluarga Lyudmilla kemudian memutuskan untuk berpindah ke kota Kiev. Di ibukota Ukraina inilah kehidupan Lyudmilla mulai berubah dan dirinya menemukan hobi baru yakni menembak. Ketertarikan Lyudmilla pada dunia menembak tersebut ia dapat setelah bekerja sebagai tukang gerinda di sebuah perusahaan senjata yang ada di kota Kiev.  Ibunya adalah seorang guru dan ayahnya seorang pekerja di pabrik. Lyudmilla yang sejak kecil berpenampilan tomboy kemudian memutuskan untuk bergabung dengan grup menembak dan berkembang menjadi penembak Jitu amatir yang membuatnya mendapatkan lencana Furusilov Schapshutter dan sertifikat penembak jitu. Semasa berada di Kiev Lyudmilla bertemu dengan seorang pria bernama Alexey Pavlichenko. Keduanya kemudian memutuskan untuk menikah pada tahun 1932 disaat Lyudmilla masih berusia 16 tahun. Tak lama kemudian mereka dikarunia seorang putra bernama Rustyslav. Sayangnya usia pernikahan Lyudmilla dan Alexey hanya bertahan 5 tahun karena pada tahun 1937 keduanya kemudian memutuskan untuk bercerai.  Selepas bercerai ini Lyudmilla kemudian memutuskan untuk menyelesaikan studinya di Universitas Kiev dan kemudian berhasil menjadi master dalam bidang sejarah. Pada bulan Juni 1941 saat perang dunia pecah dan Jerman mulai menginvasi Uni Soviet Lyudmilla yang kala itu berusia 25 tahun langsung terketuk hatinya untuk bergabung dengan militer guna melindungi negaranya. Dirinya bergabung ke dalam batalion ke 25 Red Army namun karena statusnya sebagai wanita, Lyudmilla sempat mendapat penolakan dan lebih dianjurkan untuk menjadi perawat dalam tim medis. Kemudian ia menunjukkan beberapa sertifikat kejuaraan menembak yang pernah ia menangkan, berkat sertifikat inilah kemudian Lyudmilla berhasil bergabung dengan militer.  Tak lama kemudian bersama 2000 sniper wanita lain, Lyudmilla berhasil lolos seleksi dan bergabung di garis depan medan perang sebagai bagian dari Red Army. Tak lama kemudian pada bulan Agustus 1941 Lyudmilla berhasil mencetak tembakan pertamanya, saat itu Lyudmilla ditugaskan untuk melindungi sebuah bukit strategis di dekat Belyayevka. Dirinya berhasil menembak 2 tentara Jerman dengan senapan Mosin Nagant model 1891 dari jarak 550 meter. Prestasi ini tentu tergolong luar biasa karena Mosin Nagant model 1891 sebenarnya bukan senapan khusus untuk sniper.  Berkat prestasinya di Belyayevka, Lyudmilla kemudian ditugaskan untuk mempertahankan kota Oddesa. Selama dua setengah bulan bertugas di Oddesa, Lyudmilla berhasil menembak 187 pasukan Jerman namun karena kalah jumlah pada tanggal 15 Oktober 1941 Jerman berhasil menguasai Oddesa.  Bersama pasukan lainnya Lyudmilla kemudian ditarik ke Sevastopol yang berada di semenanjung Crimea. Di Sevastopol Lyudmilla bertempur melawan tentara Jerman selama 8 Bulan lebih. Selama periode ini Lyudmilla berhasil menembak 257 tentara Jerman termasuk diantaranya 36 sniper Jerman yang mengincar nyawanya. Dengan jumlah ini Lyudmilla setidaknya telah melumpuhkan 309 orang tentara Jerman selama masa perang dunia kedua. Sayangnya aksi Lyudmilla harus terhenti pada bulan Juni 1942 setelah ia mengalami luka akibat ledakan mortir. Akibat lukanya itu Lyudmilla terpaksa tidak bisa bergabung ke medan perang lagi.  Lyudmilla Pavlichenko kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan ditugaskan untuk melakukan lawatan ke negara-negara Barat. Pada tahun 1942 Lyudmilla dikirim ke Kanada dan Amerika Serikat untuk kunjungan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meyakinkan sekutu melawan Jerman. Ketika mengunjungi Amerika Serikat ia menjadi warga Soviet pertama yang diterima oleh presiden Amerika Serikat waktu itu Franklin Delano Roosevelt, dan menyambutnya di gedung putih.  Lyudmilla kemudian diundang oleh Eleano Roosevelt untuk melakukan Tour Ke Amerika untuk menceritakan pengalamannya sebagai prajurit wanita di garis depan medan perang. Setelah masa perang dunia berakhir Lyudmilla tetap mengabdi pada militer Uni Soviet sebagai mayor angkatan laut hingga tahun 1953 sebelum akhirnya ia aktif pada organisasi veteran.  Pada tahun 1974 Lyudmilla akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 58 tahun akibat Stroke yang ia derita. Di akhir hayatnya Lyudmilla mengaku bahwa ia banyak membunuh tentara Jerman karena terpaksa, ia melakukannya demi melindungi rekan-rekannya yang saat itu masih muda. Perang adalah tempat paling kejam dan tak kenal ampun maka dari itu medan perang diidentikan sebagai tempat yang tidak cocok bagi wanita yang sering dianggap lemah dan memiliki perasaan yang lembut. Namun stigma itu tampaknya tak berlaku bagi sosok Lyudmilla Pavlichenko, seorang wanita cantik yang membuktikan jikalau dirinya sanggup bertahan di medan perang yang kejam dan bahkan berhasil menjadi salah satu predator paling mematikan.

Berkat prestasinya di Belyayevka, Lyudmilla kemudian ditugaskan untuk mempertahankan kota Oddesa. Selama dua setengah bulan bertugas di Oddesa, Lyudmilla berhasil menembak 187 pasukan Jerman namun karena kalah jumlah pada tanggal 15 Oktober 1941 Jerman berhasil menguasai Oddesa.

Bersama pasukan lainnya Lyudmilla kemudian ditarik ke Sevastopol yang berada di semenanjung Crimea. Di Sevastopol Lyudmilla bertempur melawan tentara Jerman selama 8 Bulan lebih. Selama periode ini Lyudmilla berhasil menembak 257 tentara Jerman termasuk diantaranya 36 sniper Jerman yang mengincar nyawanya. Dengan jumlah ini Lyudmilla setidaknya telah melumpuhkan 309 orang tentara Jerman selama masa perang dunia kedua. Sayangnya aksi Lyudmilla harus terhenti pada bulan Juni 1942 setelah ia mengalami luka akibat ledakan mortir. Akibat lukanya itu Lyudmilla terpaksa tidak bisa bergabung ke medan perang lagi.

Lyudmilla Pavlichenko kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan ditugaskan untuk melakukan lawatan ke negara-negara Barat. Pada tahun 1942 Lyudmilla dikirim ke Kanada dan Amerika Serikat untuk kunjungan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meyakinkan sekutu melawan Jerman. Ketika mengunjungi Amerika Serikat ia menjadi warga Soviet pertama yang diterima oleh presiden Amerika Serikat waktu itu Franklin Delano Roosevelt, dan menyambutnya di gedung putih.

Rusia dikenal memiliki sederet sniper wanita yang sangat mematikan ketika beraksi, diantara banyaknya sniper wanita rusia yang memiliki rekor paling tinggi dalam menembak musuh adalah lyudmilla pavlichenko. Bahkan kisahnya ada dalam film berjudul "Battle for Sevastopol". Ketika bertempur melawan prajurit Jerman yang melancarkan serangan besar-besaran ke Rusia pada bulan Juni 1941 Lyudmilla bahkan berhasil menembak 309 musuh dan tak ada yang menyangka jika gadis cantik berparas model ini ternyata seorang penembak berdarah dingin dan terbiasa menggunakan senjata api sejak usia 14 tahun.  Lyudmilla Pavlichenko lahir pada tanggal 12 Juli 1916 di Ukraina, dengan latar belakang dari keluarga sederhana. Di usianya yang menginjak 14 tahun keluarga Lyudmilla kemudian memutuskan untuk berpindah ke kota Kiev. Di ibukota Ukraina inilah kehidupan Lyudmilla mulai berubah dan dirinya menemukan hobi baru yakni menembak. Ketertarikan Lyudmilla pada dunia menembak tersebut ia dapat setelah bekerja sebagai tukang gerinda di sebuah perusahaan senjata yang ada di kota Kiev.  Ibunya adalah seorang guru dan ayahnya seorang pekerja di pabrik. Lyudmilla yang sejak kecil berpenampilan tomboy kemudian memutuskan untuk bergabung dengan grup menembak dan berkembang menjadi penembak Jitu amatir yang membuatnya mendapatkan lencana Furusilov Schapshutter dan sertifikat penembak jitu. Semasa berada di Kiev Lyudmilla bertemu dengan seorang pria bernama Alexey Pavlichenko. Keduanya kemudian memutuskan untuk menikah pada tahun 1932 disaat Lyudmilla masih berusia 16 tahun. Tak lama kemudian mereka dikarunia seorang putra bernama Rustyslav. Sayangnya usia pernikahan Lyudmilla dan Alexey hanya bertahan 5 tahun karena pada tahun 1937 keduanya kemudian memutuskan untuk bercerai.  Selepas bercerai ini Lyudmilla kemudian memutuskan untuk menyelesaikan studinya di Universitas Kiev dan kemudian berhasil menjadi master dalam bidang sejarah. Pada bulan Juni 1941 saat perang dunia pecah dan Jerman mulai menginvasi Uni Soviet Lyudmilla yang kala itu berusia 25 tahun langsung terketuk hatinya untuk bergabung dengan militer guna melindungi negaranya. Dirinya bergabung ke dalam batalion ke 25 Red Army namun karena statusnya sebagai wanita, Lyudmilla sempat mendapat penolakan dan lebih dianjurkan untuk menjadi perawat dalam tim medis. Kemudian ia menunjukkan beberapa sertifikat kejuaraan menembak yang pernah ia menangkan, berkat sertifikat inilah kemudian Lyudmilla berhasil bergabung dengan militer.  Tak lama kemudian bersama 2000 sniper wanita lain, Lyudmilla berhasil lolos seleksi dan bergabung di garis depan medan perang sebagai bagian dari Red Army. Tak lama kemudian pada bulan Agustus 1941 Lyudmilla berhasil mencetak tembakan pertamanya, saat itu Lyudmilla ditugaskan untuk melindungi sebuah bukit strategis di dekat Belyayevka. Dirinya berhasil menembak 2 tentara Jerman dengan senapan Mosin Nagant model 1891 dari jarak 550 meter. Prestasi ini tentu tergolong luar biasa karena Mosin Nagant model 1891 sebenarnya bukan senapan khusus untuk sniper.  Berkat prestasinya di Belyayevka, Lyudmilla kemudian ditugaskan untuk mempertahankan kota Oddesa. Selama dua setengah bulan bertugas di Oddesa, Lyudmilla berhasil menembak 187 pasukan Jerman namun karena kalah jumlah pada tanggal 15 Oktober 1941 Jerman berhasil menguasai Oddesa.  Bersama pasukan lainnya Lyudmilla kemudian ditarik ke Sevastopol yang berada di semenanjung Crimea. Di Sevastopol Lyudmilla bertempur melawan tentara Jerman selama 8 Bulan lebih. Selama periode ini Lyudmilla berhasil menembak 257 tentara Jerman termasuk diantaranya 36 sniper Jerman yang mengincar nyawanya. Dengan jumlah ini Lyudmilla setidaknya telah melumpuhkan 309 orang tentara Jerman selama masa perang dunia kedua. Sayangnya aksi Lyudmilla harus terhenti pada bulan Juni 1942 setelah ia mengalami luka akibat ledakan mortir. Akibat lukanya itu Lyudmilla terpaksa tidak bisa bergabung ke medan perang lagi.  Lyudmilla Pavlichenko kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan ditugaskan untuk melakukan lawatan ke negara-negara Barat. Pada tahun 1942 Lyudmilla dikirim ke Kanada dan Amerika Serikat untuk kunjungan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meyakinkan sekutu melawan Jerman. Ketika mengunjungi Amerika Serikat ia menjadi warga Soviet pertama yang diterima oleh presiden Amerika Serikat waktu itu Franklin Delano Roosevelt, dan menyambutnya di gedung putih.  Lyudmilla kemudian diundang oleh Eleano Roosevelt untuk melakukan Tour Ke Amerika untuk menceritakan pengalamannya sebagai prajurit wanita di garis depan medan perang. Setelah masa perang dunia berakhir Lyudmilla tetap mengabdi pada militer Uni Soviet sebagai mayor angkatan laut hingga tahun 1953 sebelum akhirnya ia aktif pada organisasi veteran.  Pada tahun 1974 Lyudmilla akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 58 tahun akibat Stroke yang ia derita. Di akhir hayatnya Lyudmilla mengaku bahwa ia banyak membunuh tentara Jerman karena terpaksa, ia melakukannya demi melindungi rekan-rekannya yang saat itu masih muda. Perang adalah tempat paling kejam dan tak kenal ampun maka dari itu medan perang diidentikan sebagai tempat yang tidak cocok bagi wanita yang sering dianggap lemah dan memiliki perasaan yang lembut. Namun stigma itu tampaknya tak berlaku bagi sosok Lyudmilla Pavlichenko, seorang wanita cantik yang membuktikan jikalau dirinya sanggup bertahan di medan perang yang kejam dan bahkan berhasil menjadi salah satu predator paling mematikan.

Lyudmilla kemudian diundang oleh Eleano Roosevelt untuk melakukan Tour Ke Amerika untuk menceritakan pengalamannya sebagai prajurit wanita di garis depan medan perang. Setelah masa perang dunia berakhir Lyudmilla tetap mengabdi pada militer Uni Soviet sebagai mayor angkatan laut hingga tahun 1953 sebelum akhirnya ia aktif pada organisasi veteran.

Pada tahun 1974 Lyudmilla akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 58 tahun akibat Stroke yang ia derita.

Di akhir hayatnya Lyudmilla mengaku bahwa ia banyak membunuh tentara Jerman karena terpaksa, ia melakukannya demi melindungi rekan-rekannya yang saat itu masih muda. Perang adalah tempat paling kejam dan tak kenal ampun maka dari itu medan perang diidentikan sebagai tempat yang tidak cocok bagi wanita yang sering dianggap lemah dan memiliki perasaan yang lembut. Namun stigma itu tampaknya tak berlaku bagi sosok Lyudmilla Pavlichenko, seorang wanita cantik yang membuktikan jikalau dirinya sanggup bertahan di medan perang yang kejam dan bahkan berhasil menjadi salah satu predator paling mematikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *