Dulu orang beli 1 motor bangganya 1 kampung, sekarang yang beli motor 1 siriknya satu kampung

Dulu orang beli 1 motor bangganya 1 kampung, sekarang yang beli motor 1 siriknya satu kampung

Dulu orang beli 1 motor bangganya 1 kampung, sekarang yang beli motor 1 siriknya satu kampung

Perubahan dan peralihan zaman memang begitu cepat, semenjak ditemukannya teknologi mesin oleh manusia. Mesin yang awal mulanya digunakan manusia untuk memudahkan tugas-tugas berat tertentu sekarang sudah beralihfungsi. Mesin seakan menjadi barang wajib dan harus dimiliki oleh setiap orang. Karenanya jika tidak maka mungkin orang tersebut bisa dibilang kuno, oleh beberapa orang tertentu.

Mesin dari yang paling dasar saja misalnya mesin motor, yah motor sekarang ini sudah banyak dan bejibun di indonesia ini. Namun kali ini saya tidak membahas mesin atau sepeda motor tersebut. Sebab kali ini saya ingin membahas sebuah fenomena yang mungkin kalian sendiri mengalaminya, yaitu tentang sikap dan tingkah laku masyarakat antara satu orang dengan lainnya yang saling memamerkan atau unjuk gigi saling saingan satu sama lain. Baik dalam hal kekayaan maupun kehidupan sosial.

Tanpa disadari secara langsung ternyata mayarakat dahulu dengan sekarang sangatlah jauh sekali perbedaannya terutama dalam sikap dan toleransi dalam bertetangga. Lihat saja dari gambar di bawah ini, mungkin penjelasan ini bisa sedikit salah maupun benar. Terlihat seorang yang sedang menerima sepeda motor yang telah dibelinya namun diiringi banyaknya orang yang melihat dan mungkin merasa kagum pada sepeda motor yang telah di beli oleh orang tersebut.

Dulu orang beli 1 motor bangganya 1 kampung, sekarang yang beli motor 1 siriknya satu kampung

Mungkin dalam benak hati orang yang telah membeli sepeda motor tersebut dia merasa bangga bisa membeli sepeda motor yang telah ia impikan dan menjadi orang pertama yang punya sepeda motor di daerah tersebut ( misalnya ya 🙂 ). Dan orang banyak yang melihat si sepeda motor dengan pemiliknya, mungkin dalam pemikiran orang-orang tersebut merasa bangga ada pria satu daerah yang bisa membeli sepeda motor pertama di daerah tersebut. Yah dan mungkin dia bisa memegang ataupun hanya sekedar duduk sebentar di sepeda motor pria tersebut jika dibolehkan, tentu merasa lega si orang-orang tersebut.

Semisal pria tersebut membeli motor tersebut pada masa sekarang kemungkinan bagaimana? Mungkin pria tersebut terlihat bangga bisa memiliki sepeda motor hasil kerja kerasnya sendiri dan terlihat sumringah. Namun apa yang mungkin terbesit dalam pikiran orang di sekitarnya ? Yah mungkin saja mereka (ini hanya opini) merasa iri kepada orang tersebut. Mengapa bisa iri, mungkin mereka iri karena tidak bisa memiliki sesuatu yang sama padahal dia sendiri satu daerah dengannya. Bukan hanya hal itu, bisa saja mereka merasa iri dan syirik karena status pekerjaan yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang dimilikinya sekarang.

Namun lambat laun sepeda motor yang dulu awalnya hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu namun sekarang hampir setiap rumah pasti mempunyai sepeda motor bahkan lebih dari satu. Walaupun setiap rumah dan tetangga memiliki sepeda motor, ada saja yang membuat para tetangga dan orang sekitar merasa iri dan syirik. Mungkin dalam hal kekayaan, status, pangkat, dan jabatan. Padahal dalam agama sendiri iri termasuk sikap yang tidak baik. Karena sepantasnya manusia hidup saling berdampingan dan gotong royong satu sama lain.

Sikap iri dan syirik seharusnya boleh namun dalam hal yang positif saja, seperti jika tetangga memiliki usaha yang sukses dan berhasil kenapa tidak kita bertanya atau belajar darinya. Karena setiap manusia mempunyai jatah rezekinya sendiri-sendiri dan kewajibannya masing-masing. Untuk itu sebagai manusia sepatutlah kita menghormati dan berbagi dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Berbagi tidak hanya soal uang, namun membantunya dalam memecahkan masalah yang dialami tetangga sekitar atau sekedar ikut gotong royong ketika ada tetangga yang sedang membangun rumah.

Nah jadi sikap iri dan syirik boleh asalkan dalam hal yang positif saja ya. Bukan dengan iri atas rezeki orang lain. Kita pun sebagai manusia sama dimata Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja Tuhan menjadikan manusia yang berbeda agar saling mengerti dan membantu satu dengan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *